Tampilkan postingan dengan label Bidang AKSPEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bidang AKSPEL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2017

DIRGAHAYU 67 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)

Dirgahayu Ke-67 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. | Foto Kreasi Bernata Manalu

DIRGAHAYU 67 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)

67 Tahun GMKI 

Ulang tahun GMKI tentu kita akan pertama mengenang tokoh yang menjadi THE FOUNDING FATHER dari Gerakan ini yang mana pada saat pembentukan GMKI tanggal 9 Februari 1950  yang menyampaikan.

"Tindakan ini adalah suatu tindakan historis bagi dunia mahasiswa umumnya dan masyarakat Kristen pada khususnya. GMKI menjadilah pelopor dari semua kebaktian yang akan dan mungkin harus dilakukan di Indonesia. GMKI menjadilah suatu pusat sekolah latihan (leershool) dari orang-orang yang mau bertanggungjawab atas segala sesuatu yang mengenai kepentingan dan kebaikan negara dan bangsa Indonesia. GMKI bukanlah merupakan Gesellschaft, melainkan ia adalah suatu Gemeinschaft, persekutuan dalam Kristus Tuhannya. Dengan demikian ia berakar baik dalam gereja, maupun dalam Nusa dan Bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari iman dan roh, ia berdiri di tengah dua proklamasi: Proklamasi Kemerdekaan Nasional dan Proklamasi Tuhan Yesus Kristus dengan Injilnya, ialah Injil Kehidupan, Kematian dan Kebangkitan"



MENGULAS PANCA KEGIATAN GMKI YANG KE- 5
“BERKREASI”
(Ayat bacaan: Kejadian 2:19)

"Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu."
"Ah sayang saya tidak kreatif... saya bukan seniman." kata seorang teman dengan ringan ketika ia diminta untuk ikut membantu dekorasi ruangan. Mungkin benar bahwa kreativitas orang berbeda-beda. Ada yang dikaruniai bakat seni yang tinggi disertai kreativitas tinggi pula, ada yang tidak. Tapi itu bukan berarti bahwa ada orang yang sama sekali tidak memiliki kreativitas dalam dirinya. Salah satu tugas saya sebagai pengajar desain adalah menemukan dan mengembangkan kreativitas dari anak-anak didik saya. Satu hal yang selalu saya dapati sebagai kesimpulan pada tiap angkatan adalah bahwa semua manusia memiliki kreativitasnya sendiri. Dari satu tugas yang sama hasilnya bisa berbeda-beda, dan semuanya tetap menarik untuk dilihat. Jika kita perhatikan dalam Alkitab, Tuhan yang Maha kreatif sesungguhnya menuntut kita untuk menjadi orang-orang yang kreatif pula. Kita tidak dianjurkan untuk mempergunakan alasan tidak kreatif sebagai celah untuk tidak melakukan apa-apa. Dengan otak, nalar, ketrampilan, kemampuan dan berbagai talenta khusus yang sudah disediakan Tuhan kepada kita, sudah seharusnya kita bisa berpikir kreatif dalam melakukan sesuatu. Tuhan adalah sosok yang sangat kreatif, dan manusia dikatakan diciptakan menurut gambar dan rupaNya. Maka itu artinyakreatifitas sejatinya merupakan bagian dari manusia.

Dari proses penciptaan alam semesta beserta isinya kita bisa melihat kreativitas Tuhan dalam mengisi alam ini.  Jutaan jenis binatang dari berbagai spesies, jenis-jenis tanaman yang berbeda-beda di berbagai belahan bumi, atau yang juga sederhana dan bisa kita lihat setiap saat, perhatikanlah wajah manusia yangtidak pernah sama persis meski kembar sekalipun. Komponen pengisi muka boleh sama, namun tidak akan ada yang pernah sama persis hasilnya. Lalu kemudian kita bisa melihat pula bagaimana kreatifnya Tuhan memberikan jawaban bagi berbagai permasalahan hidup manusia. Sebagai contoh saja kita bisa melihat kreativitas Tuhan dalam membantu umat Israel dari Mesir menuju tanah Kanaan yang subur. Tuhan memberi Tiang awan, tiang api, manna, daging dari burung puyuh, membelah Laut Teberau dan seterusnya. Ini semua memperlihatkan kreativitas tinggi Tuhan dalam memberi solusi  bagi manusia.

Yesus dalam pelayananNya di dunia pun banyak menggunakan metode kreatif. Dalam misi pelayananNya Yesus banyak menggunakan perumpamaan, berdiskusi, tanya jawab, menyembuhkan bahkan membangkitkan, memberi contoh keteladanan, dan seterusnya. Yesus tidak pernah monoton dalam pelayananNya. Sehubungan dengan diciptakannya manusia sebagai sosok yang istimewa, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri, sudah selayaknya kita pun mewarisi kreativitas ini. Alangkah ironisnya jika kita terlalu malas untuk mempergunakan sisi-sisi kreativitas yang telah Dia sediakan bagi kita. Dari mana kita tahu bahwa Tuhan menuntut kita juga untuk menjadi manusia-manusia kreatif? Kita bisa melihatnya dalam kitab Kejadian.

Sebelum proses pembentukan Hawa, Tuhan terlebih dahulu membentuk segala binatang hutan dan burung-burung. Dan semua ini dibawa kepada Adam untuk ia beri nama. "Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu." (Kejadian 2:19). Dengan kata lain, Tuhan ingin melihat bagaimana kreativitas manusia untuk menamainya. Jika kita mundur beberapa ayat sebelumnya, Tuhan juga menempatkan Adam di taman Eden bukan untuk berleha-leha dan bersantai, tapi untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu." (ay 15).

Perhatikan kata mengusahakan dan memelihara. Manusia bukan saja ditugaskan untuk memelihara kelestarian lingkungan, tapi juga mengembangkan apa yang sudah ada untuk menjadi lebih baik lagi. Ini membutuhkan proses kreatif. Memaksimalkan, mengembangkan dan menciptakan inovasi atau kreasi baru menuju suatu kehidupan yang lebih baik melalui segala sesuatu yang telah disediakan Tuhan. Itu yang harus dilakukan manusia, bukan sebaliknya merusak alam dengan segala isinya.


Kreativitas ada di dalam diri setiap orang. Tapi tidak semua orang mau mempergunakannya. Sebagian orang terlalu malas untuk mengolah kreativitas yang ada di dalam mereka. Kemalasan tidak akan pernah bisa membawa orang mengalami peningkatan dalam hidupnya. Yang ada malah keruntuhan, seperti apa yang dikatakan Pengkotbah. "Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah." (Pengkotbah 10:18). Semua yang disediakan Tuhan di dunia ini bagi kita hendaklah dikelola dengan baik, dipelihara, dijaga dan dikembangkan untuk kebaikan kita semua. Agar kita tetap bisa bertumbuh dan mengalami peningkatan, tetaplah rajin bekerja, dan kreatiflah dalam setiap yang anda usahakan. Tuhan akan selalu melihat bagaimana usaha kita, apakah kita selalu berusaha melakukan yang terbaik atau tidak, sebelum Tuhan mempercayakan perkara-perkara yang lebih besar lagi.  Tuhan mengharapkan manusia agar selalu berpikir kreatif dalam bekerja.

Berkreasi, menbaca/mendengar kata ini tentu yang muncul dibenak kita adalah, "AKTIVITAS YANG KHAS/BEDA DARI YANG LAIN".



Allah meminta kita untuk menilai diri kita sebelum kita menilai orang lain.

Sangat mudah untuk melihat kesalahan kecil dalam diri orang lain sementara kita melewatkan masalah besar dalam kehidupan kita sendiri. Sungguh ironis bahwa orang dengan masalah yang lebih besar memiliki nyali untuk mengkritik yang lain.
Otokritik membuat kita melihat kedalam diri kita sebelum mengktitik orang lain. Ketika kita mengenali dosa di dalam diri kita, kritik kita tentang dosa orang lain dengan cepat meluruh.
Daud berdoa supaya Allah akan memberinya “hati yang bersih.” Dia menulis Mazmur 51 setelah kejatuhannya kedalam dosa terhadap Batsyeba dan pembunuhan terhadap suaminya.
“Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.”Mazmur 51:15.



DIRGAHAYU KE 67 GERAKAN MAHASISWA KRISTEN INDONESIA (GMKI)
SEMAKIN JAYALAH DALAM BERPELAYANAN JUGA DALAN BERKEGIATAN TERLEBIH DALAM PENGKADERAN. BERKREASILAH SELALU DEMI KEMAJUAN BANGSA INDONESIA

"BERDAMAILAH DENGAN SEMUA CIPTAAN"


TINGGI IMAN ILMU PENGABDIAN, UT OMNES UNUM SINT
SHALOM

Kamis, 26 Januari 2017

SURAT TERBUKA MASYARAKAT PINGGIR REL MEDAN-BELAWAN



Ketua FK-MPR JM. NAIBAHO


SUARA DARI PINGGIR REL

Yang Terhormat,
Presiden RI,DPR RI, DPD RI, KOMNAS HAM, MENTRI PERHUBUNGAN, MENTRI LHK, OMBUSMAN RI, KPK RI dan Segenap Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia

Dengan hormat,
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyertai kita dalam setiap aktivitas kita sehari-hari.
Bersamaan dengan surat ini, kami ingin menyampaikan kekecewaan dan tuntutan kami terkait berjalannya pembangunan Rel Kereta Api Medan–Belawan dengan pengambilan kebijakan yang berdampak buruk bagi kami. Berikut kami juga sangat menyesalkan pembangunan ini yang tidak mengindahkan komunikasi dengan warga dan mempertanyakan terkait Tali asih dari PT. KAI DIVRE I SU senilai Rp 1.500.000,- yang diberikan kepada warga dengan cara intimidasi oleh  TNI (Kolonel Sarman Nadeak dan Kapten Marinir Sukardi). Warga yang menerima tali asih ini diminta untuk menandatangani selebaran tanpa berita acara sebagai pertinggal. Pergolakan ini dimulai pada bulan Februari 2016 hingga saat ini.
Kami mempertanyakan sikap Pemerintah Kota Medan  (Eldin) dan Provinsi Sumatera Utara (Erry) yang tidak pernah datang kelokasi untuk melihat kondisi warga yang digusur secara paksa yang saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Kembali kami tegaskan bahwasanya kami tidak pernah menolak pembangunan. Tetapi, kami sebagai warga negara Republik Indonesia memohon untuk diperlakukan dengan manusiawi.
Beberapa hal lain yang kami lihat adalah berjalannya Pembangunan rel tanpa Surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebagaimana termaktub dalam Permen LH No. 16 Tahun  2012 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL, Permen LH No. 17 Tahun  2012 tentang Keterlibatan Masyarakat dalam proses AMDAL yaitu Lingkungan Hidup.
Dengan ini kami mohon untuk semua pihak memberi perhatian kepada kamii dan melakukan penyelidikan menyeluruh akan penyelenggaraan pembangunan ini. Demikianlah surat ini kami perbuat, terimakasih.

Demikian disampaikan Forum Komunikasi Masyarakat Pinggir Rel (FK-MPR) Medan (Ketua JM. NAIBAHO)


Sabtu, 24 Desember 2016

SELAMAT NATAL GMKI SE-TANAH AIR

Foto: Desain oleh Bernata Asmail Manalu (Ketua Komisariat GMKI FT UNIMED)

Perjumpaan dengan Allah membawa Keselamatan
(Bacaan 1 : Yesaya 62:6-12; Titus 3:4-7; Lukas 2: 8-20)

Yesaya 62:6-12
Ayat 12. Penduduk Yerusalem pada hari yang terkemudian akan sangat berbeda dengan keadaan mereka pada zaman Yesaya dan para penerusnya: yaitu bangsa yang tidak kudus, ditinggalkan dalam perbudakan musuh-musuh mereka, tidak dicari oleh anugerah Allah yang menyelamatkan, melainkan dibiarkan untuk mengalami akibat-akibat kemurtadan mereka.

Titus 3: 4-7
Ini menunjuk kepada kelahiran kembali orang percaya, yang secara simbolis digambarkan dengan baptisan air Kristen. Dengan lahir baru Roh Kudus membaharui kita. Kedua gagasan ini terkait demikian erat sehingga merupakan dua cara untuk mengungkapkan karya Roh Kudus yang sama. 6. Yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita. Sudah dicurahkan. Lambang air sering kali dipakai dalam hubungan dengan Roh Kudus. Roh Kudus dicurahkan melalui Yesus (Yoh. 4:10; 7:37). Limpah. Dengan berlebihan. Roh merupakan kekayaan sejati sebab Dia adalah meterai dari warisan kita dan juga sumber serta pencipta segala berkat. 7. Supaya, mengutarakan hasil dari penganugerahan karunia Roh: “supaya sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya. kita berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.”akan oleh Roh Kudus” menunjuk kepada penyaluran hidup ilahi secara berkesinambungan kepada orang percaya sementara mereka menyerahkan kehidupan mereka kepada Allah (bd. Rom 12:2).

Lukas 2: 8-20
Juruselamat. Di dalam Perjanjian Lama, Allah merupakan Juruselamat dari umat-Nya (Yes. 25:9; 33:22). Sekalipun para nabi menganggap Dia terutama sebagai Juruselamat dari penindasan politis, Lukas memperluas konsep itu dan menjadikan Yesus Juruselamat dari dosa. Kristus, Tuhan, Kristus artinya yang diurapi, Mesias Israel, yang adalah pembebas yang dijanjikan. Tuhan. Sebuah gelar yang oleh orang Yunani yang kafir digunakan untuk raja-raja mereka, yang mereka muliakan sebagai dewa. Seorang Kristen dapat menggunakan gelar ini hanya untuk Kristus (I Kor. 8:6).

GMKI FT UNIMED | Gembala dalam kisah Natal pertama ini, kaum lemah dan miskin, namun ternyata kepada kaum demikian justru  kabar itu diberitakan oleh malaikat. Saat itu mereka sedang menjaga ternak mereka di padang. Saat hari sudah malam, saat mana kabar itu disampaikan, bahwa kabar sukacita itu adalah kabar lahirNya Sang Juru Selamat untuk semua secara universal dalam diri Kristus. Itulah yang disebut sebagai kabar besar oleh malaikat.

Kaum gembala sebenarnya mewakili status manusia … di hadapan Allah, yakni kecil dan lemah…dalam kegelapan tanpa pengaharapan. Sementara di sisi lain Bangsa Israel menantikan kedatangan Sang Mesias, yakni orang yang akan menyelamatkan mereka dari segi politik yang pada saat itu sedang dijajah oleh  Romawi. Dalam situasi dan kondisi demikianlah Kristus lahir menghadirkan sukacita besar bagi seluruh bangsa, ayat 10. Pada ayat yang ke 11 dinyatakan bahwa Kristus adalah Juruselamat. Yang membuat peristiwa itu menjadi besar karena yang datang adalah Allah itu sendiri yang melawat umatNya. Perjumpaan yang menyelamatkan itu terjadi dari pihak Allah sebagai inisiator, sebab kasihNya yang besar kepada manusia. Nubuatan dalam kitab Yesaya sebagaimana bacaan yang pertama, tentang hadirnya Sang Penyelamat telah digenapi, sebagaimana pada bacaan yang kedua Titus 3: 4-7 dan yang disaksikan oleh para gembala penggenapanNya.

Dampak kedatanganNya bukan hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang percaya kepadaNya saja, tetapi semua seluruh bangsa akan turut menikmati pemanfaatan dari tujuan kedatanganNya. Berkat dari kemurahan Allah menjadi dirasakan oleh semua, bahkan oleh seluruh ciptaan tanpa terkecuali sebagaimana tujuan dari kedatanganNya yakni untuk kesukaan, damai sejahtera dan keselamatan. Apa istimewanya kita yang percaya pada kelahiranNya di dunia ini dengan yang lain? Ialah bahwa kita dijadikanNya saksi kelahiranNya sebagaimana para gembala. Menjadi saksiNya dalam setiap dimensi kehidupan kita dengan meninggalkan kefasikan dan fokus pada kehendak dan kemuliaanNya.

Nilai kesaksian dari setiap orang berbeda tergantung keeratan relasi masing-masing dengan Tuhan. Carang anggur akan berbuah jika ia menempel di pokok anggur.
Menghayati atribut duniawi sebagai alat bantu pencapaian panggilanNya, dan bukan sebaliknya menjadikan harta benda, martabat dan harkat, kedudukan menjadikannya yang utama dalam hidup.

Pada ayat yang ke 20 dari bacaan yang ketiga, dikatakan: “Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah…” Setelah mereka berjumpa, menyaksikan sendiri Kristus lahir, pulanglah mereka dengan memuji dan memuliakan Allah. Bahwa perjumpaan dengan Allah selalu membuahkan pujian dan pemuliaan akan Allah, karena pada Allah manusia menyaksikan kebesaran dan kemuliaan yang luar biasa.  Dan Agama Kristen dikenal sebagai agama menyanyi, bahwa dalam nyanyian terkandung bentuk-bentuk pujian dan pemuliaan akan Allah yang dinyatakan dalam setiap situasi dan kondisi kehidupan, saat susah, saat senang, saat tegang, saat santai orang Kristen mempunyai butir-butir lagu pujiannya. Demikian dapat dikatakan Bayi Yesus dalam Palungan Betlehem sumber keselamatan dan pujian kita dalam merenda kehidupan.

SELAMAT NATAL, GMKI SE-TANAH AIR...

TINGGI IMAN, ILMU, PENGABDIAN
UT OMNES UNUM SINT

Refrensi : http://gkjw.or.id/rancangan-khotbah/khotbah-natal-25-desember-2016/

Selasa, 18 Oktober 2016

DOKUMENTASI JALAN SANTAI DIES NATALIS GMKI CABANG MEDAN KE 62

PENGANTAR

Pemuda Berbicara Kerukunan Umat Beragama di Sumatera Utara

 “Tidak ada Persatuan tanpa Perbedaan”
Pernyataan itu bukan tidak sering kita dengar baik secara lisan maupun dari media sosial. Kata “Persatuan” akan berlaku hanya jika ada “Perbedaan”. Betapa tidak, jika bukan karena perbedaan itu maka tidak akan ada yang perlu dipersatukan.
Perbedaan memang kerap kali menjadi mesiu pemicu kesalahpahaman bahkan pertikaian.Sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman, kita dituntut untuk  lebih menghargai keberagaman itu. Jangan sampai itu menjadi palu pemukul yang meretakkan bahkan menghancurkan bangsa kita.
Berbicara mengenai kerukunan tentu berbicara mengenai perbedaan pula karena perbedaanlah yang membutuhkan hal itu. Negara kita adalah Negara yang kaya akan Ras, Suku, Adat, Agama dan masih banyak hal lainya yang memperkaya bangsa kita. Sampai saat ini negara Indonesia memiliki 6 Kepercayaan yang diakui sebagai Agama. Agama mempunyai pengaruh yang besar akan karakter maupun moral dan etika keseharian orang-orang di negara ini. Keberagaman kepercayaan ini juga sangat mempengaruhi yang namanya persaudaraan di negara ini. Namun, perbedaan itu jugalah yang membuat nama negara ini besar dan dikenal di penjuru dunia.

POSISI PEMUDA DALAM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA
Ditengah kayanya keberagaman di negara ini, Provinsi Sumatera utara menjadi salah satu penyuplai keragaman itu. Hal ini tampak jelas dalam kehidupan kita sehari-hari yang berdomisili di daeerah Sumatera Utara. Sebagai agen perubahan yang kerap diberikan bagi mereka yang sedang memundak jabatan sebagai mahasiswa tentunya itu menjadi sebuah tanggungjawab yaitu menjaga kelestarian umat beragama. Kerukunan berarti saling mengakui keberadaan dengan saling menghargai setiap perihal-perihal masing-masing kepercayaan. Dalam kehidupan Mahasiswa di Sumatera Utara tak jarang Keberagaman ini menjadi pemecah. Hal itu sebenarnya akibat dari rasa cinta terhadap kepercayaan masing-masing. Namum, ada juga orang-orang yang memang motifnya untuk memecahbelah kerukunan yang sudah terpelihara. Disinilah kekritisan kita diuji sebagai kaum intelektual yaitu bagaimana kita dalam merespon hal itu. Sebagai salah satu provinsi yang besar di Negara ini, Sumatera Utara memang sangat rentan akan problem semacam itu.
Problema itu bisa kita lihat secara nyata di kehidupan kita sebagai generasi penerus bangsa. Kehidupan orang-orang muda erat dengan yang namanya kelompok-kelompok maupun organisasi.Organisasi kemahasiswaan, organisasi kemsyarakatan yang berbau Agama adalah gambaran nyata dari hal itu. Tak jarang organisasi-organisasi seperti itu maupun semacamnya dijadikan media untuk memberi gambaran yang kurang etis terhadap organisasi lainya. Disitulah kita diuji tentang reaksi kita untuk menanggapinya. Apakah dengan memberi tanggapan sebagaimana kita diuji atau mau meralat hal yang sebenarnya sudah menjadi virus yang bisa menghancurkan persaudaraan. Bisa dibilang pemuda itu adalah sasaran dari semua kebijakan-kebijakan dari ajaran agamanya. Perilaku npemuda adalah gambaran dari bagaimana norma akan agamanya. Tapi tak jarang pula ada oknum yang sengaja bertingkah untuk membuat sesamanya bertindak rasis.
Berbagai insiden yang di Sumatera Utara tidak pernah lepas dari keberadaan para pemuda. Agama di kalangan pemuda adalah hal yang sangat sensitif. Hal itu dikarenakan semangat pemuda itu cenderung masih dikuasai oleh emosionalnya yang masih labil. Untuk menjaga kerukunan umat beragama di Sumatera Utara sudah seharusnyalah Pemerintah dan mereka yang menjadi ahli-ahli Religius untuk mengarahkan semangat para pemuda sehingga tidak menjadi salah arah. Kehidupan pemuda di Sumatera Utara dalam keseharianya memang tidak begitu memandang apa dan siapa orang-orang di sekitarnya.Rasa kebersamaan dan kekompakan yang sangat kuat menjadi kebanggaan buat kita yang hidup di Sumatera Utara. Itu juga tidak lepas dari peranaktif dari mereka yang  melayani dimna para pemuda beraktivitas. Seperti di sekolah, kampus juga tempat-tempat ibadah yang selalu mengajarkan perlunya kerukunan. Keberagaman lainya seperti Suku, Adat istiadat juga menjadi factor yang menopang hal itu.Dalam hal ini Sumateta utara juga mempunyai forum yang mempunyai misi memelihara kerukunan umat beragama yang dinamakan Forum Lintas Pemuda. Tetapi, kerukunan di Sumtera Utara terpelihara tidak semata-mata karena keberadaan Forum ini melainkan jiwa kebersamaan itulah yang membangun karakter-karakter pemudanya.
Banyanya etnis dan suku di Sumatera Utara juga sangat berpengaruh terhadap kerukunan umat beragama itu sendiri. Betapa tidak wilayah yang awalnya hanya didiami oleh satu etnis saja dengan beberapa kepercayaan sudah ditambah  lagi dengan etnis baru yang pasti juga dengan karakter yang baru pula. Dan itu juga membawa perubahan dari yang sperti biasanya. Berkurangnya kawasan tempat-tempat umum yang mana menjadi wadah bagi para pemuda untuk mengisi kekosongan. Pemerintah harus bijak untuk mengarahkan para pemudanya dengan menfasilitasi berbagai hal-hal yang tidak lepas dari pelestarian umat Bergama itu sendiri.
“ Akidah Terjamin, Kerukunan Terjalin.
Itulah motto Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) .
Motto inilah yang menjadi jembatan untuk menyampaikan kerukunan umat beragama di Sumatera Utara supaya tidak membesarkan perbedaan dan memprioritaskan adanya persamaan.Tetapi menumbuhkan persaudaraan yang kental ditengah-tengah perbedaan itu. Upaya menanamkan kerukunan di Sumatera Utara dengan melestarikan persamaan itubukan berarti mencampuradukkan perbedaan yang adaKepercayaan dan norma masing-masing pemeluk  agama harus tetap dijunjung tinggiyang harus diupayakan  adalah terjalinya kerukunan antar umat beragama demi tercapainya keharmonisan hidup dalam keberagaman, saling memberi, membantu dengan tidak menjadika perbedaan agama sebagai sudut pandang dalam berperilaku sehari-hari. Untuk mewujudnyatakan hal itu Pemerintah Provinsi Sumatera Utara membentuk tiga pilar kerukunan yaitu :
1)   FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama),
2)   Forum Lintas Pemuda, dan
3)   FORKALA (Forum Lembaga Adat dan Budaya).
Kerukunan umat beragama di Sumatera Utara sampai saat ini memang masih tergolong kondusif. Dan harapan dan tanggungjawab kita bersama untuk menjaga juga menghormati kerukunan itu di Sumatera Utara  juga di Negara Kita Indonesia untuk waktu yang tidak ditentukan. Keberhasilan ini berkat kerjasama berbagai pihak, seperti adanya tiga pilar kerukunan yang konsekuen mendukung terjalinnya kerukunan.Tiga pilar ini bersama pemerintah Daerah dan Departemen Agama dan majelis-majelis agama secara sinergi membina umat beragama. Kondisi kerukunan di Sumatera Hal ini diupayakan bukan hanya pada tataran pertemuan, seremonial tetapi menjadi kebutuhan masyarakat.
 Berdasarkan data yang saya dapat dari mediua sosial Wikipedia, Sumatera Utara yang mempunyai luas wilayah 71.680,68 Km2 berpenduduk 12.982.204 jiwa. Komposisi umat beragama: umat Islam sebanyak 8.579.983 jiwa (66,09 persen), Kristen Protestan dan Katolik 4.024.483 jiwa (31 persen), Hindu 14.28 jiwa (0,11 persen), Budha 303.783 jiwa (2,34persen), dan lain-lain 389.456 jiwa  (2,9 persen).
Pemeluk agama Islam terbanyak berada di 18 kota dan kabupaten, yakni di
 : Tapanuli Selatan, Mandailing Natal,Langkat, Asahan, Deli Serdang, Labuhan Batu, Medan, Serdang Bedagai, Sibolga,Tanjung Balai, Binjai, Tebing tinggi, Padang Sidempuan, Batubara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Labuhan Batu Utara, dan Labuhan Batu Selatan. Sementara umat Kristen terbanyak di sembilan kota dan kabupaten, yakni : Tapanuli Utara, Nias, Nias Selatan, Karo, Dairi, Toba Samosir, Samosir, Pakpak Barat, dan Humbang Hasundutan. Sedangkan jumlah umat Islam dan Kristen hampir berimbang berada di Tapanuli Tengah dan Pematang Siantar. Dari 12.982.204 jiwa penduduk dan pemeluk agama di Sumatera Utara, telah berdiri 9.199 masjid, 10.325 mushalla, 10.277 gereja Kristen, 2.124 gereja katolik, 63 kuil, 367 vihara, dan 77 cetiya.
Hal-hal yang menggoyang kerukunan di Sumatera Utara yakni :Jumlah penduduk yang cukup besar, Kemajemukan dalam etnis, Suku,Budaya, Agamaperbedaan tingkat pendidikan dan lingkungan, masih adanya aliran sempatan, masih adanya sebagian kecil penduduk yang belum menganut agama resmi yang diakui (di pedalaman), Bergesernya nilai-nilai agama dan budaya dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, globalisasi serta dampak negatif pembangunan. Hal yang rawan dalam pembinaan kerukunan umat beragama kadang juga karena pendirian rumah ibadah yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku penyiaran agama kepada orang yang sudah menganut agama tertentu dengan imbalan materi (umumnya di daerah terpencil)perselisihan pribadi, kelompok, organisasi, yang akhirnya berkembang menjadi konflik keagamaanadanya kelompok secara diam-diam mengadu domba umat dengan menyebar selebaran berbau SARA atau semacamnyadan penggunaan rumah tempat tinggal atau rumah toko (ruko) menjadi tempat peribadatan dan sebagainya.
Persatuan dan kesatuan yang hakiki akan menciptakan kerukunanyang abadi. Kerukunan abadi akan mewujudkan bangsa yang makmur dan bermartabat. -Bangsa yang bermartabat akan mengangkat citra negara serta dapat menggugah pandangan bangsa untuk meneladaninya”.
Sebagai kader Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), kita juga dituntut untuk kontribusi dalam mewujunyatakan kerukunan itu. Menjunjung tinggi nilai-nilai kekristenan dengan menjaga keutuhan kerukunan beragama sebagaimana tertulis di konstitusi Grekan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Menjadi kaum yang menggagas indahnya persaudaraan yang menghidupkan sebagaimana tema Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia saat ini.

“KEINDAHAN ADA KARENA PERBEDAAN, TIDAK ADA PERSATUAN TANPA PERBEDAAN”

Salam Perdamaian.
Tinggi Iman, Ilmu, Pengabdian   Ut Omnes Unum Sint
(Ketua GMKI Komisariat FT-UNIMED M.B 2015/2016)