Selasa, 09 Juni 2015

PEMUDA YANG BERKARAKTER KRISTUS



Ayat Pokok:
I Timotius 4:12
" Janganlah seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu,dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu"

PENDAHULUAN
Ayat ini adalah merupakan nasehat Rasul Paulus kepada anak rohaninya Timotius.

Siapakah Timotius?
Sebelum kita belajar nasehat yang indah tentang bagaimana seorang pemuda harus dapat menjadi teladan,mari kita mengenal lebih dahulu siapakah Timotius itu. Dia adalah anak yang lahir dari perkawinan campuran. Ibunya seorang wanita Yahudi dan ayahnya seorang Yunani. ( Kisah 16:1,II Tim 1:5).. Dia menjadi Kristen ketika Paulus dalam safari penginjiannya pertama mengunjungi Listra.. Timotius kemudian menjadi murid dari Paulus.

Dari arti namanya, Timotius artinya orang yang saleh, orang yang menghormati Tuhan. Timotius memang layak menyandang gelar itu, karena sejak kecil ia sudah mengenal ajaran-ajaran firman Tuhan. Ibunya Eunike yang adalah seorang Yahudi asli tentu sangat berperan dalam membentuk kepribadian dan karaketer Timotous sehingga menjadi orang yang memahami kitab suci dan hidup dalam ketaatan kepada hukum-hukum Tuhan. Selain itu neneknya yang bernama Louis juga ikut berperan dalam mmbangun jati dirinya sehingga menjadi pribadi yang teguh dalam iman. Paulus dibesarkan dan tinggal di Listra, suatu daerah di Propinsi Kilikia.

Dalam safari penginjilan keduanya Paulus kemudian mengangkat dia menjadi pembantu dalam penginjilannya, setelah ia mengalami kekecewaan karena perpecahannya dengan Barnabas dan Markus ( Kisah 15:39). Dikemdian hari Timotius menjadi pembantu yang sangat dekat dengan Paulus. Hubungan mereka menjadi seperti hubungan bapak dengan anak.

PEMUDA YANG BERKARAKTER KRISTUS
Dalam naehatnya kepadaTimotius, Paulus memberikan perintah supaya Timotius mampu menjadi teladan sekalipun  Timotius masih sangat muda. Saat ini firman Tuhan juga menjadi nasehat bagi kita, rekan-rekan muda yang ada. Kita harus mampu menjadi teladan  dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan dalam kesucian.

Untuk menjadi teladan kita harus meneladai karakter Kristus, Dengan demikian, ketika orang melihat kita, maka orang akan melihat pribadi Kristus yang terpancar melalui hidup kita

Saat ini kita akan belajar mengenai apa saja karakter Kristus yang harus ada dalam hidup kita?

1. Peduli dengan orang-orang yang terpinggirkan
Kitab suci menceritakan banyak sekali kisah-kisah tentang kepedulian Krstus kepad orang-orang yang terpingirkan. Setiap hari ia bergaul dengan orang-orang yang dianggap sampah oleh masyarakat. Bukankah dalam Alkitab dicatat bagaimana Yesus memperhatikan perempuan Samaria, para pemungut cukai, penderita kusta, dan orang-orang lain yang mungkin tidak banyak orang yang mau bergaul dengan mereka? Tetapi Kristus mau peduli dengan mereka. Bagaimana dengan kita? Biar kita juga mampu menjadi seperti Tuhan Yesu, mau peduli dan mengasihi orang-orang yang terpinggirkan.

2. Kejujuran
Karakter Kristus yang kedua yang harus kita perhatikan dan teladani adalah kejujuranNya. II Petrus 2:22 mengatakan" Ia tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada didalam mulut-Nya. Kita harus hidup dalam kejujuran. Saat ini kejujura menjadi suatu hal yang mahal. Godaan untuk berlaku dan berkata tidak jujur ada dimana-mana.Mari kita senantiasa jujur terhadap Allah, diri sendiri dan orang lain. Kejujuran merupakan mutiara berharga yang amat menyenangkan hati Tuhan. Alkitab banyak memberikan janji-janji berkat kalau kita berlalaku jujur senantiasa. ( Amsal 2:21,3:32,11:11, 14:11,15:17)

3.Ketaatan akan tugas dan tanggung-jawab-Nya.
Mengengai ketaatan Kristus tentu kita tidak akan meragukan lagi.Salib memberikan pesan bahwa ketaaan Tuhan Yesus kepada kehendak Bapa sungguh luar biasam,bahkan taat sampai mati. Ketaatan seperti Tuhan Yesus inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi kita. Seringkali bebagai pergumulan hidup di dunia membuat kita merasa terdesak dan sulit untuk percaya kepada Allah. Namun kita diingatkan bahwa walaupun sulit dan menuntut pengorbanan, kita harus belajat taat kepada kehendak Tuhan.Kuncai agar kita bisa terus terarah kepada kehendak Allah adalah  selalu berdoa.

4.Menunjukkan kasih-Nya kepada semua orang
Yohanes 13:31-35 “Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Kita harus meneladani kasih Yesus. Kasih Yesus adalah kasih Agape, yaitu kasih yang tanpa syarat. Kita mengasihi bukan karena orang lain mengasihi kita, tetapi kita harus mengasihi kepada semua orang sekalipun mungkin orang tersebut tidak suka kepada kita.

Kasih Yesus adalah juga kasih yang mau berkorban. Karena kasih-Nya kepada kita, maka Tuhan rela mengorbankan nyawa-Nya. Mari kita meneladi kasih ilahi ini.

5.Kerendahan hatinya sebagai seorang hamba
Yesus merupakan teladan utama kita dalam belajar hidup rendah hati.Selama hidupnya di dunia , Yesus selalu berjalan dalam kerendahan hati, dan ketaatan kepada Bapa. Walaupun Yesus adalah Raja segala raja, tetapi ia rela lahir di kandang domba yang hina.Ia juga memilih untuk menjadi anak dari tukang kayu. Bahkan Pada masa-masa terakhir hidupNya di dunia ini, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai lambang kerelaanNya untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Yesus mengatakan kepada para muridNya sebagaimana Aku membasuh kakimu maka kamu wajib saling membasuh kaki yang mana berarti harus saling melayani dan merendahkan diri. Selain berarti kerelaan untuk tidak dikenal, kerendahan hati juga berarti kerelaan untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Kita wajib saling melayani satu dengan yang lain dalam kerelaan bila ingin hidup dalam kerendahan hati. Salah satu bentuk saling melayani tersebut adalah dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.

Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya ( I Ptr 5:6 ). Syarat untuk mendapatkan promosi/peninggian dari Allah adalah hidup dalam kerendahan hati. Bila kita hidup dalam kerelaan untuk tidak dikenal dan melayani orang lain maka Tuhan akan meninggikan kita pada waktunya. Promosi yang sejati datang dari Tuhan bukan dari manusia. Bila Tuhan sendiri yang mempromosikan kita maka tidak ada satupun manusia yang dapat menghalangiNya.
Selain itu hidup dalam kerendahan hati juga akan membuat hidup kita berhasil dan dipenuhi berkat. Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah ( Mzm 37:11). Walaupun bangsa kita sedang dirundung krisis yang sepertinya tiada berujung namun bila kita hidup dalam kerendahan hati maka kita akan mewarisi negeri ini dan menikmati kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Jaminan kita bukan datang dari manusia tetapi datang dari Allah. Tuhan tidak akan pernah gagal menepati janjiNya sebab Ia tidak bisa gagal.
Bill Gothard mengatakan setiap pagi ia membiasakan diri merendahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan. Setiap pagi ia mengakui kelemahan dan ketidaklayakannya kepada Tuhan. Bill berkata, "Bila Saya tidak merendahkan diri maka akan ada orang yang dengan senang hati akan merendahkan saya ". Daripada direndahkan lebih baik kita merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Membangun Kepemimpinan Pemuda yang Berkarakter Menurut Suratan Filemon



1. Menjadi seorang yang dapat menerima kelemahan orang lain
Dalam surat Filemon ini Paulus berjumpa dengan seorang budak yang  bernama Onesimus, ia dimasukkan dalam penjara karena melakukan tindakan criminal. Kesalahan Onesimus menyebabkan ia dimasukkan alam penjara. Banyak orang memberi stigma negative pada semua tahanan atau orang yang dimasukkan dalam penjara, dan sukar sekali mereka bisa menerima dengan tulus seorang tahanan ataupun bekas narapidana.Tetapi Paulus memiiliki hati seperti Kristus, ia justru menerima Onesimus untuk dilayanani. Paulus memberikan waktu secara khusus membina Onesimus menjadi seorang yang berubah secara radikal. Sentuhan tangan dan hati Paulus yang dia dapat dari teladan Kristus memberinya kemauan yang keras bahwa Onesimus bisa menjadipribadi yang berubah menjadi baik.

Dalam pelayanan Yesus di dunia Ia memberi pemaknaan yang baru tentang obyek manusia yang dilayani. Dalam pandangan kaum Farisi orang benar yang menjadi obyek pelayanan tetapi Yesus mengatakan, “ Bukan orang benar yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit yang memerlukan tabib. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari orang yang berdosa.” Semangat ini juga yang dikembangkan oleh Paulus dalam pelayanannya. Waktu bertemu dengan Onesimus hatinya dipenuhi dengan kasih yang luar biasa sehingga ia tergerak untuk melayani secara pribadi Onesimus.

2. Menjadi seorang  yang dipenuhi dengan kesabaran
Membentuk seorang budak yang punya latar belakang tidak baik membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Tanpa sebuah kesabaran, mustahil Onesimus dimenangkan oleh Paulus menjadi pribadi yang baru. Sebuah kesabaran yang sekalipun kelihatan lama hasilnya, selalu memberi hasil yang besar. Kesabaran ibarat titik air yang menetes di batu karang terus menerus sehingga membuat lubang besar pada batu karang.

Seorang penjunan yang ahli dapat membuat perabot-perbot yang indah bukan hanya karena ia mempunyai ketrampilan tangan, tetapi ia harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. Seorang pemimpin KKA harus memiliki sebuah kesabaran yang tinggi seperti Kristus dan Paulus. Ia sabar menghadapi tekanan, perbantahan, dan sabar melihat hasil akhir dari apa yang telah ia kerjakan.

3. Menjadi seorang yang tidak suka memerintah dan memaksakan kehendak
Onesimus adalah budak dari seorang kaya yang bernama  Filemon. Kebetulan Paulus sangat mengenal dengan Filemon, bahkan Filemon termasuk anak rohani dari Paulus. Tentu, Paulus punya wewenang untuk langsung menentukan sikap dan mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan dari Filemon. Tetapi Paulus tidak melakukan dan menggunakan wewenang rohaninya sebagai guru rohani Filemon dengan mengambil keputusan secara sepihak.

Inilah sikap seorang gembala yang baik, sekalipun ia punya kuasa untuk mengambil sebuah keputusan berdasarkan posisinya, tetapi ia tetap menghargai dan menghormati orang lain sebagai pribadi yang pantas untuk diajak bertukar pikiran. Seorang gembala tidak boleh memaksakan kehendaknya, ia harus melibatkan orang lain dalam proses pengambilan keputusan sehingga membuat konflik semakin kecil.

4. Menjadi pribadi pendamai
Onesimus melakukan tindakan yang tidak baik, ia telah melakukan tindakan yang jahat terhadap tuannya, Filemon. Hubungan yang baik di antara keduanya menjadi rusak karena ulah Onesimus yang tidak baik. Atas tindakan Onesimus yang salah tersebut, maka Filemon memasukkan Onesimus ke dalam penjara. Konflik antara Onesimus dan Filemon menjadi sebuah perusak kemitraan mereka berdua.

Paulus adalah seorang mediator yang ulung, di tengah hubungan yang tidak harmonis dan rusak tersebut ia tampil sebagai seorang pendamai. Ia meminta atau memohon kepada Filemon untuk menerima atau berbaikan dengan Onesimus. Dan akhirnya Onesimus kembali lagi ke tempat Filemon. Seorang pemimpin KKA pemuda adalah seorang yang senang dan selalu mengupayakan pendamaian terhadap seseorang yang sedang berkonflik, sehingga situasi yang kondusif terjalin kembali.

5. Membagikan kepercayaan dengan mendelegasikan tugas
Pendelegasikan tugas adalah penyerahan wewenang dari atasan kepada bawahan di lingkungan tugas tertentu dengan kewajiban mempertanggungjawabkan kepada yang menugasi. Tidak semua pemimpin memiliki keberanian untuk mendelegasikan sebuah tugas kepada bawahannya, jemaat atau anak didik, atau anak rohaninya. Diperlukan kerendahan hati serta rasa tidak takut tersaingi jika hendak mendelegasikan sebuah tugas kepada bawahan, jemaat, atau anak binaan.

Paulus mendelegasikan tugas kepada Timotius untuk mengambil dan memimpin sebuah pelayanan atau memimpin sebuah gereja. Sekalipun menurut usia Timotius masih sangat muda, kemungkinan untuk dianggap sangat mentah dan belum matang bisa menjadi bumerang serangan balik. Tapi dalam kenyataan ini, Paulus tetap berani untuk mendelegasikan tugas penggembalaan kepada Timotius untuk sebuah gereja di Efesus.

6. Duplikasikan diri pada murid
Timotius adalah anak rohani Paulus, Paulus memerlukan waktu cukup lama mencetak seorang Timotius menjadi pribadi yang seperti atau mendekati karakteristiknya. Paulus sadar bahwa segala sesuatu punya batas akhir, tetapi ia tidak mau apa yang masih dalam kerangka impiannya yang besar menjadi hilang termakan oleh usia atau oleh kematian. Kesadaran yang tinggi akan hal ini menyebabkan Paulus selalu berpikir tentang proses generasi rohani. Itulah sebabnya Paulus sangat berpikir strategis tentang kepentingan kepemimpinan Kristen pasca dirinya nanti, ia mendidik dan menduplikasikan dirinya kepada Timotius untuk menjadi pemimpin Kristen masa datang.

Banyak gereja telah memulai dan mengakhiri sebuah pelayanan dengan cemerlang, tetapi pemimpin tersebut tidak mempersiapkan pemimpin penggantinya, akibatnya jika figur dirinya telah memenuhi waktu untuk bersama Bapa di surga, apa yang dirintisnya berada dalam situasi kritis karena tidak ada pemimpin seperti dirinya yang telah dicetak sebagai penggantinya. Banyak gembala sidang tidak berpikir strategis seperti Musa yang dengan tekun menduplikasikan dirinya kepada Yosua, sama seperti Paulus menduplikasikan dirinya pada Timotius.

7. Pemotivasi yang baik bagi murid
Timotius masih sangat muda ketika Paulus memberikan pendelegasian padanya untuk dia memimpin sebuah gereja. Bagi orang Yahudi yang memegang filsafat bahwa orang yang tua adalah orang yang bijaksana, ini menjadi suatu kendala spikis buat Timotius yang masih muda. Timotius sangat ketakutan dan merasa minder karena kemudaannya. Ia takut ia tidak dihormati dan pemikirannya tidak diterima karena ia masih sangat muda.

Paulus adalah seorang pemimpin yang mahir memotivasi orang, di tengah ketakutan dan keminderan Timotius, Paulus memberikan perkataan-perkataan yang membangun Timotius. Salah satunya, “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.”

8. Pemberi solusi pada murid
Paulus sangat mengenal Timotius, bahkan ia sangat mengenal kelemahan-kelemahan Timotius. Banyak kelemahan Timotius yang diketahui oleh Paulus, baik kelemahan mentalnya bahkan juga kelemahan fisiknya. Paulus sangat memahami dan sadar pada kenyataan tentang kelemahan Timotius. Semua itu tidak menyurutkan percayanya pada Timotius bahwa ia bisa menjadi seorang pemimpin yang hebat.

Sadar akan bahaya kelemahan Timotius, Paulus memberikan beberapa nasehat yang menjadi sebuah solusi bagi Timotius. Untuk kelemahan fisik Timotius, solusi yang diberikan Paulus adalah Timotius diharapkan minum anggur dalam proporsi yang tepat dan benar. Untuk kelemahan mentalnya, Paulus memberi solusi supaya Timotius mengobarkan karunia yang telah ia terima lewat penumpangan tangan. Ia juga mengingatkan Timotius untuk tidak menjadi takut, karena Tuhan tidak memberi roh ketakutan tetapi roh keberanian.

Kamis, 23 April 2015

Memaknai Ulang Amsal Kita " Ut Omnes Unum Sint"


Ut omnes unum sint sebagai salah satu materi pokok yang dibahas dalam setiap Masa Perkenalan GMKI adalah bagian penting dari praksis organisasi ini. Hal ini merupakan refleksi empiris teologis The Founding Fathers gerakan ini dan yang akhirnya menjadikan Ut omnes unum sintsebagai Amsal yang dipakai dan menjadi fondasi filosofis (muatan nilai-nilai) dan dasar pemersatu Pemuda/Pelajar Kristen (Student Christian Movement) pada masa lalu. Kita akan melihat secara ringkas bagaimana sejarah lahirnya, hingga akhirnya ut omnes unum sint juga dipakai sebagai amsal GMKI. Serta, bagaimana kita saat ini dapat memaknainya kembali dalam konteks zaman yang mengalami perubahan yang sangat cepat. Semoga pembahasan kali bisa memberikan kontribusi yang berarti dalam masa perkenalan yang dilakukan GMKI dan praksisnya ke depan.








Pengertian Ut Omnes Unum Sint
Ut Omnes Unum Sint adalah ungkapan dari Alkitab dalam bahasa Latin. Kalimat yang sama dalam Alkitab bahasa Indonesia disebut : “supaya mereka semua menjadi satu”. Ungkapan kalimat ini sangat jelas dikatakan dalam doa syafaat Tuhan Yesus yang terdapat dalam Injil Yohanes 17: 21. Sedangkan dalam Alkitab versi bahasa Yunani (Novum Testamentum Graece – Aland Nestle), ungkapan ini dikatakan Î¯Î½Î± παντες έν ωσιν (baca: hina pantes hen osin). Susunannya adalah sebagai berikut: Î¯Î½Î± – Ut – Supaya; Ï€Î±Î½Ï„ες – Omnes -Semua; Î­Î½ – Sint - Satu; Ï‰ÏƒÎ¹Î½ – Unum - Menjadi. Dengan demikian, maka arti Î¯Î½Î± παντες έν ωσιν atau Ut Omnes Unum Sint adalah “Supaya mereka menjadi satu”. Kata “Ut” dalam bahasa Indonesia disebut “Agar” atau “Supaya” merupakan suatu bentuk pernyataan. Kata ini memberi arti bahwa “seharusnya atau semestinya menjadi seperti begini, sebab seperti inilah sesungguhnya”. Kata “Omnes“ dalam Alkitab bahasa Indonesia disebut “mereka semua”. Kata ini berarti, semua orang atau semua manusia. Kata “Unum” dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata “menjadi seperti”, atau “serupa dengan”, kata “Sint” dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata “Semuanya menjadi satu”.
Dengan melihat kepada penjelasan diatas, maka pengertian “ut omnes unum sint” atau “supaya semua menjadi satu“ memberi arti bahwa : “adalah suatu perintah atau pernyataan yang mutlak tentang semua manusia supaya harus menjadi satu.” Hal ini ditujukan terutama kepada orang–orang yang telah menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Mereka harus wajib menjadi satu sama seperti Yesus Kristus dengan Bapa-Nya yang adalah satu. Kata kuncinya adalah “satu“. Ini lebih lanjut dimengerti sebagai persatuan, kesatuan (Unity).
Kesatuan yang dimaksud di sini adalah bukanlah kesatuan magis, mistik atau institusi, akan tetapi kesatuan di sini adalah kesatuan rohani, satu di dalam iman, satu ketaatan kepada firman (Yoh. 17:6). Persatuan atau kesatuan (unity) adalah kata yang sering digunakan dalam Alkitab. Pemikiran yang melatarbelakangi istilah ini adalah: “adanya kesatuan umat Allah yang dalam Perjanjian Lama berasal dari satu Bapa.” Persekutuan ini digambarkan oleh pemazmur sebagai persekutuan yang diwarnai dengan kehidupan bersama yang rukun (Mzm. 133:1).
Dalam Perjanjian Baru kesatuan ini lebih dimengerti sebagai keadaan akibat dirobohkan-Nya dinding pemisah antara orang Yahudi dengan orang Kafiri yaitu antara Yahudi dengan orang yang bukan Yahudi; antara Tuan dan Hamba; antara laki–laki dan perempuan. Semua menjadi satu dalam Yesus Kristus (Ef. 2:12 ; Gal. 3:26–29). Yesus Kristus adalah satu–satunya dasar dari kesatuan umat-Nya yang beragam itu. Orang yang percaya adalah saudara–saudara Yesus Kristus, dan saudara satu terhadap yang lain dalam satu keluarga Allah. Mereka mempunyai satu Allah dan Bapa dari semua (Efesus 4:6). Mereka dituntun oleh Roh Kudus yang satu menjadi tempat kediaman Allah di dalam Roh (Efesus. 2:22). Kecuali itu, mereka juga harus mempunyai pikiran dan perasaan sebagaimana pikiran Kristus (Filipi 2:5), yakni kerendahan diri Yesus dan ketaatan-Nya pada Bapa (Fil. 2:8). Injil Yohannes menyaksikan betapa dalamnya keinginan Yesus agar murid–murid-Nya menjadi satu. Keinginan Yesus ini disampaikan melalui doa permohonan-Nya kepada Bapa. Isi doa Yesus sangat penting, sebab menyangkut eksistensi dan juga integritas orang–orang percaya di dalam Dia (Yoh. 17:21).
Makna Ut Omnes Unum Sint (Kesatuan) dalam Refleksi Teologis Yoh. 17:21
Kesatuan yang didoakan oleh Tuhan Yesus bukanlah hanya sekedar kesatuan organisasi, tetapi kesatuan rohani yang berlandaskan: hidup di dalam Kristus (Yoh. 17:23); mengenal dan mengalami kasih Bapa dan persekutuan Kristus (Yoh. 17:26); perpisahan dari dunia (Yoh. 17: 14-16); pengudusan dalam kebenaran (Yoh. 17:17, 19); menerima dan mempercayai kebenaran Firman Allah (Yoh. 17:6,8,17); ketaatan kepada Firman (Yoh. 17:6); keinginan untuk membawa keselamatan kepada yang hilang (Yoh. 17:21, 23). Bilamana salah satu dari faktor ini tidak ada, maka kesatuan yang didoakan Yesus tidak mungkin ada. Kita juga dapat melihat bahwa, doa Tuhan Yesus dalam Yoh. 17:21 mengamanatkan:
Pertama, panggilan untuk keesaan itu mempunyai dasar dalam keesaan Anak dan Bapa: “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti engkau, ya Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita”. Dengan demikian panggilan keesaan itu mempunyai dimensi horisontal dengan semua orang percaya (Gereja) dan dimensi vertikal dengan Bapa dan Anak. Itu berarti bahwa gerakan keesaan itu bergerak ke dua arah: tidak hanya harus mendekatkan hubungan dan menyatukan Gereja-gereja, melainkan juga harus membuat Gereja-gereja secara bersama-sama mendekat kepada Tuhan. Dua hal tersebut adalah sama pentingnya.
Kedua, panggilan untuk keesaan secara horisontal dan vertikal itu selanjutnya juga berkaitan dengan keberhasilan tugas missioner Gereja: “Supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. Kalau Gereja-gereja sungguh-sungguh esa secara horinsotal dan vertikal, maka misi Gereja pasti akan berhasil. Dengan kata lain, keesaan secara horisontal dan vertikal itu dapat dikatakan sebagai prasyarat bagi keberhasilan misi Gereja. Pada sisi lain, tiap-tiap Gereja pasti harus melaksanakan tugas misionernya masing-masing. 
Ketiga, Yesus berdoa supaya para pengikutNya “menjadi satu” (Terjemahan Bahasa Indonesia) supaya menjadi “satu adanya”. Bentuk yang dipakai dalam bahasa Yunani menunjuk pada suatu tindakan yang berkesinambugan: “terus-menerus bersatu” (sustainable), kesatuan yang berlandaskan kesamaan hubungan kepada Bapa dan Anak, dan karena memiliki sikap yang sama terhadap dunia, firman Allah, dan perlunya menjangkau mereka yang hilang (Bnd. 1Yoh. 1:7).
Keempat, kesatuan yang ditekankan juga adalah kesatuan yang di dalam iman, satu pemahaman tentang Kristus; karena mereka dibaharui oleh Roh yang sama, dan mereka memiliki karya anugerah yang sama dan telah mengubah diri mereka. Walaupun mereka memiliki ragam kemampuan, namun mereka memiliki titik utama dalam Injil, yaitu bahwa keselamatan hanya oleh Kristus saja.
Keempat amanat ini juga telah termaktub dalam Prasetya keesaan Gereja-gereja yang tergabung dalam PGI yang telah menyatakan janji setianya untuk melaksanakan Lima Dokumen Keesaan Gereja (LDKG) dalam gerakan Oikumene[6]. Gereja-gereja yang tergabung di dalam Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) telah merumuskan visi dan misi mereka dalam “Dokumen Keesaan Gereja” (DKG).[7] Intinya, visi Gereja-gereja adalah mewujudkan keesaan Gereja melalui pelaksanaan tugas panggilan Gereja yang dicakup dalam koinonia, marturia, dan diakonia. Biasanya juga dirumuskan sebagai “Mewujudkan Gereja Kristen yang Esa di Indonesia” sebagaimana dikalimatkan ketika DGI didirikan pada 20 Mei 1950. visi ini tidak pernah berubah. Dan mestinya memang tidak pernah boleh berubah, sebab kalau tidak kehadiran Gereja-gereja dalam PGI menjadi tidak punya makna. Visi inilah yang terus menerus diterjemahkan di dalam misi bersama yang setiap lima tahun (melalui Sidang Raya) direaktualisasikan.
Ut omnes unum sint adalah = perwujudan Gerakan Oikumene
Oikumene adalah kata dalam bahasa Yunani, yaitu Participium Praesentis Passivum Femininum dari kata oikeo, yang berarti “tinggal, berdiam, atau juga mendiami.” Oleh sebab itu arti harafiah kata Oikumene adalah “yang didiami”. Tetapi participim ini telah memperoleh arti khusus sebagai kata benda.[8] Dengan demikian istilah oikumene (Oikumene, ÎŸÎ¹ÎºÏ‰Ï‚ yaitu rumah ) adalah satu kata yang secara asasi sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Gereja. Karena kata Yunani ini dimaksudkan dunia yang didiami, di dalam pengertian politis. Jadi istilah Oikumene sebenarnya adalah berasal dari suasana politik, lalu diadopsi (dipindahkan) ke dalam situasi Gereja.
Dr. W. H. Visser ‘T Hoof mendaftarkan beberapa arti kata Oikumene seperti yang didapati di dalam sejarah. Oikumene adalah: “seluruh dunia yang didiami (Lukas 4:5, Roma 10:18, Ibrani 1:6), seluruh kekaisaran Romawi (Kis. 24:5), dari sana kata ini juga berarti: seluruh umat manusia (Kis. 17:31, 19:27, Why. 12:19), Gereja seluruhnya, Gereja yang sah, hubungan-hubungan diantara beberapa Gereja atau orang Kristen yang pengakuannya berbeda-beda. Usaha dan keinginan untuk mendapatkan keesaan Kristen”.
Dalam perkembangnya, khususnya gerakan Oikumene pada abad ke-19 kita dapat melihat empat macam usaha yang dapat disebut sebagai usaha untuk mempersatukan orang-orang Kristen dari Gereja-gereja yang berbeda. Yang pertama adalah usaha mempersatukan orang-orang Kristen dari Gereja-gereja yang mempunyai dasar teologis atau kenfesional yang sama. Usaha kedua adalah usaha untuk mempersatukan orang-orang Kristen Protestan dalam satu perhimpunan. Usaha ini secara khusus diprakarsai oleh seorang Pendeta Skotlandia, Thomas Chalmers (1780-1847), walaupun juga ada orang lain yang pada waktu itu telah mengusulkan hal yang sedemikian.
Hasilnya adalah pembentukan Evangelical Alliance (Perserikatan Injili) di London pada tahun 1846. Sumbangan positif Evangelical Alliance pada sejarah Oikumene adalah dengan pengadaan Minggu Doa Sedunia, untuk untuk meningkatkan kesadaran kesatuan dan persaudaraan, pengadaan konferensi-konferensi dan penerbitan majalah Oikumenis yang pertama, Evangelical Christendom (1847-1955). Dengan demikian dipupuk kesadaran bahwa di luar batas-batas gereja sendiri juga ada orang-orang Kristen dan bahwa penting untuk mencari kerjasama dengan mereka.
Pada zaman ini diadakan konferensi-konferensi yang dimaksudkan untuk memperbaiki relasi, untuk mewujudkan saling pengertian dan menghasilkan kerjasama. Sumbangan ketigadiberikan oleh apa yang disebut sebagai Voluntary movements (Gerakan-gerakan Sukarela). Dimana Voluntary Movements ini muncul karena pengaruh Revivalism (Gerakan Kebangunan Rohani), sebagai semangat Pembaharuan sebagai unsur pietis di Amerika Serikat, yang kemudian dari sana tersebar ke seluruh dunia Barat.
Dari gerakan Revivalism ini berasal organisasi-organisasi seperti Young Man Christian Association (YMCA, Persatuan Para Pemuda Kristen 1844), Young Women Christian Association (YWCA, Persatuan Para Pemudi Kristen 1854), Student Christian Movement (SCM, Gerakan Mahasiswa Kristen, yang lahir pada tahun 80-an abad ke-19 di berbagai Negara dan menggabungkan diri pada tahun 1895 dalam World Student Christian Federation (WSCF, Federasi Mahasiswa Kriten Sedunia); yang kemudian juga membentuk diri dalam wadah-wadah lokal disetiap negara, salah satu wadah yang ada di Indonesia adalah GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) dan Student Vulunteer Movement for Foreign Mission (SVM Gerakan Sukarela Mahasiswa untuk Pekabaran Injil Luar Negeri yang didirikan pada tahun 1888 oleh John R. Mott).
Mamaknai kembali Ut Omnes Unum Sint (Amsal GMKI) sebagai landasan misi
Menyadari kondisi dan keberadaannya saat ini, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang juga berhimpun dalam wadah World Student Christian Federation (WSCF) haruslah dapat memaknai kembali akan fungsinya sebagai alat pemersatu dan jembatan kerjasama dalam perwujudan Gereja-Nya yang esa, yang menyaksikan Yesus Kristus selaku Tuhan dan Juru Selamat di dalam keesaan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus yang mengerjakan keselamatan manusia. Dalam praksisnya GMKI haruslah tetap hidup dalam Amsal tersebut yang juga merupakan bersumber dari Alkitab. Sebab, hal itu juga telah jelas tertuang dalam penjelasan AD/ART GMKI, bahwa faktor inilah yang harus dominan dalam organisasi ini. Program inti ini tidak boleh dilupakan oleh GMKI. Sebab, jika melupakan program tersebut berarti bahaya erosi kedirian yang sangat fatal akan melanda organisasi. Semuanya ini adalah konsekuensi dari sumber GMKI adalah Alkitab.
Sifat keKristenan ini menunjukkan bahwa GMKI adalah bagian dari Gereja. GMKI adalah kelanjutan pelayanan Gereja di Perguruan Tinggi, dengan berbagai karakteristik Gereja, sebagaimana Gereja menempatkan Alkitab sebagai dasar, maka ini pulalah yang menjadi sumber bagi GMKI. Sumber GMKI tidak mengaburkan arti dan sifat gerejawinya. Dalam pengalaman sumber organisasi ini, maka haruslah relevan dengan panggilannya, dan tidak asing bagi lingkungannya.
Oleh sebab itu, memaknai kembali ut omnes unum sint dalam konteks kekinian adalah peran penting yang harus dilakukan oleh organisasi ini. Jika tidak, berarti kita berada di luar konteks Amsal tersebut. Sebab, kekuatan kultur dari organisasi (sosio budaya) adalah terletak pada fleksibilitas dan relevansi fondasi filosofis (muatan nilai-nilai) serta visi dan misi organisasi. Visi dan misi inilah yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya sebagai jemaat yang misioner, terlebih lagi bagi orang-orang yang sukarela bergabung dan menjadi bagian dalam GMKI, yang juga adalah alat-Nya untuk mewujudkan kedamaian, kesejahteraan, keadilan, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih.
Dalam kaitan itu juga organisasi ini melaksanakan misinya untuk mempersiapkan pemimpin dan penggerak yang ahli dan bertanggungjawab dengan menjalankan panggilannya di tengah-tengah masyarakat, negara, Gereja, Perguruan Tinggi, dan mahasiswa, dan menjadi sarana bagi terwujudnya kesejahteraan, perdamaian, keadilan, kebenaran dan cinta kasih di tengah-tengah manusia dan alam semesta (lih. Pasal 3 Visi dan Misi, AD GMKI).
Konteks panggilan misi yang harus kita lakukan sebagai mahasiswa dalam medan pelayanan-Nya adalah panggilan yang holistik. Kita dipanggil dari latar belakang gereja, suku dan disiplin ilmu yang berbeda. Akan tetapi kita adalah satu di dalam kasih-Nya dan juga yang telah memampukan kita untuk melakukan apa yang diamanatkan-Nya kepada kita. Dengan demikian sebagai mahasiswa kita harus dapat mesyukuri dan menggunakan panggilan yang diberikan-Nya kepada kita dengan baik. Sebagai seorang mahasiswa yang terpanggil di bidang medis/kesehatan, hendaknya menjadi tenaga medis yang melayani. Mahasiswa yang terpanggil di bidang ekonomi, hendaknya menjadi akuntan/ekonom yang melayani. Mahasiswa yang terpanggil di bidang pendidikan/sains hendaklah menjadi pendidik yang melayani. Mahasiswa yang terpanggil di bidang hukum dan sosial politik, hendaklah menjadi pengayom dan aparatur yang melayani. Mahasiswa yang terpanggil dalam panggilan disiplin ilmu lainnya haruslah juga dapat menjadi pemimpin yang melayani. Sehingga, ut omnes unum sint (supaya semua menjadi satu) dapat kita maknai kembali dan aplikasikan dalam setiap panggilan disiplin ilmu kita sebagai mahasiswa yang telah menjadi satu di dalam organisasi ini. Dengan demikian kesatuan yang kita wujudkan adalah kesatuan yang holistik untuk semua (universal) yang tercermin dari buah pelayanan kita untuk Gereja, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat (juga tanggung jawab sebagai warga negara) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tinggilah iman kita, tinggilah ilmu kita, dan semakin tinggilah pengabdian kita.
Salam Persaudaraan
Ut omnes unum sint…
Syalom……

WASEK ORKOM

Kamis, 12 Maret 2015

Gerakan dan Tulisan

Tulisan ini muncul berawal dari perenungan mendalam tentang pencarian sebuah arti "Gerakan" dan yang "Menggerakkan" lalu dibumbui dengan sebuah  pemaknaan akan arti "menulis" dalam artian menuliskan tentang sesuatu yang terlintas di fikiran.

Pada awalnya penulis berkesimpulan bahwa "Gerakan" itu muncul akibat dari kekuatan seorang individu yang mampu mengorganisir beberapa orang untuk melakukan sesuatu.

Di jaman sekarang, sering sekali kita menemukan orang-orang yang percaya tentang sebuah "kehebatan individual". Orang ini selalu bersifat menjadi yang paling heroik (dalam dialektikanya) dan berpendapat bahwa dialah yang memperdaya orang-orang yang bergerak tersebut.

Mental yang seperti ini akan memunculkan sebuah "kekecewaan" yang berakhir pada sebuah kegagalan sebuah gerakan tersebut. Kegagalan itu muncul akibat orang-orang yang sedari awalnya telah sadar kenapa harus bergerak ternyata diracuni oleh kekuatan sebuah dialektika yang membawa kedalam sebuah kesimpulan bahwa gerakan itu terjadi hanya karena ada seorang "Individu" yang bersifat berke-"Pentingan" semata.

Sebuah gerakan ada karena sebuah "ide". "Ide" yang mampu membuat individu tergerak. Menurut manusia di jaman modern saat ini yang sudah banyak berfikir "materialistis", "Ide" itu sangat tergantung kepada orang yang menyampaikannya. Ketika orangnya tidak tepat, maka ide itu tidak akan berjalan, namun ketika ada orang lain yang dianggap "Ideal" menyampaikan ide yang sama persis, ada kemungkinan gerakan yang muncul akan lebih berdampak positif, atau lebih menggerakkan.

Hal ini menguatkan pendapat Plato yang mengatakan bahwa "Idea" itu citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

Lalu pertanyaan yang muncul, "Siapakah yang menciptakan ide itu?"

Jika pendapat Plato benar, lalu akan muncullah pertanyaan di atas. Dikatakan Plato bahwa ide itu non-material yang tidak bisa diraba dan dilihat tetapi dapat dirasakan dan diterima oleh semua manusia.

Hal selanjutnya yang muncul adalah "Dimanakah ide itu dapat ditemukan?"

Untuk menjawab pertanyaan kedua, penulis akan menjawabnya dalam sebuah bentuk sebuah cerita yang mungkin bisa mengarahkan kita kembali ke judul dari tulisan ini.

Ide seorang Scorates tidak akan dikenal/diketahui oleh generasi saat ini kalau tidak dituliskan oleh muridnya Plato dalam setiap bukunya yang berpola dialog. Dan Ide seorang Plato, Aristoteles, Karl Marx, Friedrich Engels, Tan Malaka dan Soekarno tidak akan dikenal jika mereka tidak menuliskannya.

Nama seseorang akan abadi bersama dengan tulisannya. Seperti Plato (Surat VII) berpendapat bahwa : Pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu.

Manusia bisa saja habis menyatu dengan alamnya, namun "Ide" manusia akan selalu abadi. Seperti kata Tan Malaka "“Dari dalam kubur, suaraku akan lebih keras". Namu apakah suara Tan Malaka akan nyarng terdengar oleh pemuda saat ini jika dia tidak menuliskannya? Sepertinya tidak.

Jika "Ide" adalah seperti yang didefenisikan oleh Plato, maka letak kekuatan manusia adalah ada pada cara dia menuliskan ide itu, sehingga ide itu akan dikenal melalui orang yang menuliskannya dan orang itu akan dikenal melalui ide nya. Kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Kekuatan sebuah tulisan lebih kuat dari sekedar fisik orang yang menulisnya, ide akan menjadi sebuah isapan jempol belaka jika tidak dituliskan. Dalam konsep sebuah gerakan, "Ide" adalah sangat berperan penting.

Tulisan dijaman yang jauh berabad-abad dari masa sekarang ini mampu menggerakkan individu-individu di jaman ini dan masa-masa mendatang.

Dalam tulisan sederhana ini, penulis mengambil judul "Gerakan dan Tulisan", hal ini tentu setelah melalui proses pemikiran yang mendalam untuk menjelaskan kesimpulan mengapa "Anak Gerakan Perlu Menulis". Ini hanyalah sebuah stimulus agar kedepannya kita menyadari betul arti pentingnya menuliskan "Ide", sementara nama-nama yang tercantum diatas hanyalah sebagai contoh orang-orang yang dikenal masa sekarang ini dari tulisannya, sementara untuk ide/gagasan mereka pastinya kita masih perlu sama-sama mendalaminya.


Oleh : Benardo Sinambela​ (Ketua PK GMKI FT-UNIMED M.B 2013-2014)

Sabtu, 21 Februari 2015

GMKI FT -UNIMED-Siraman Rohani


Renungan
SEBAGAI SATU TINDAKAN KEMAUAN, SAUDARA DAPAT MENERIMA KRISTUS SEKARANG JUGA DENGAN DOA BERDASARKAN IMAN.
(Doa adalah percakapan dengan Tuhan)

Bedoalah dengan kata-kata saudara sendiri. Tuhan Allah mengetahui isi hati saudara dan tidak bergantung pada kata-kata saudara.
Berikut ini adalah satu saran doa :

" Tuhan Yesus, aku memerlukan Engkau. aku membuka pintu hatiku dan menerima Engkau sebagai Juruselamat dan Tuhanku. Terima kasih, karena Tuhan telah mengampuni dosa-dosaku. Kuasailah tahta hatiku, Bentuklah aku menjati seorang pribadi yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Amin."

Apakah doa ini menyatakan keinginan hati saudara ? 
Kalau saudara berdoa dengan iman dan mengundang Kristus untuk menguasai hidup saudara, apakah yang akan terjadi?

Jika demikian, ucapkanlah doa ini sekarang juga, maka Kristus akan masuk ke dalam hati saudara dan hidup saudara sebagaimana telah dijanjikanNya.

BAGAIMANA  SAUDARA DAPAT MENGETAHUI BAHWA KRISTUS TELAH BERADA DI DALAM HATI SAUDARA :

Apakah saudara telah mengundang Kristus masuk ke dalam hati saudara pada waktu saudara berdoa? 
Kalau demikian sesuai dengan janjiNya dalam ( Wahyu 3:20) , di manakah Dia sekarang? 
Kristus berjanji bahwa Ia akan masuk ke dalam hidup saudara ketika saudara mengundangNya secara pribadi dalam doa saudara. Mungkinkah Dia menepati janjiNya?
Bagaimana saudara mengetahui bahwa Ia menjawab doa saudara? ( Karena Allah senantiasa setia pada janji-janji dalam FirmanNya.)

ALLAH MENGARUNIAKAN HIDUP YANG KEKAL KEPADA SEMUA ORANG YANG MENERIMA KRISTUS :

"Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semua itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal".
(1 Yohanes 5:11-13 )
Bersyukurlah senantiasa, bahwa Kristus ada di dalam hidup saudara dan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan saudara ( Ibrani 13:5 ). Saudara dapat mengetahui bahwa Kristus tinggal di dalam hati saudara, dan bahwa sejak saudara mengundang Dia berdasarkan iman saudara kepada janjiNya, saudara menerima hidup yang kekal. Dia tidak akan mengecewakan saudara.

SEJAK SAUDARA MENERIMA KRISTUS, BANYAK HAL TELAH TERJADI DALAM KEHIDUPAN SAUDARA, TERMASUK :

1Tuhan Yesus yang diwakili oleh Roh Kudus telah berada di dalam hati saudara
     (Wahyu 3:20; Efesus 1:13,14; Roma 8:14-17.)
2Dosa-dosa saudara telah diampuni
     (Kol. 1:13,14; 1 Yohanes  1:9.)
3Saudara telah menjadi seorang anak Tuhan
     (Yohanes 1:12; Roma 8:15,15.)
4 Saudara telah memulai perjalanan hidup yang sesuai dengan rencana Allah bagi hidup
     saudara ( Efesus 2:10, II Kor. 5:17.)

Dengan demikian, menerima Kristus merupakan pengalaman yang lebih indah dari pada pengalaman-pengalaman lain yang mana dalam hidup saudara. maukah saudara berdoa untuk menyatakan terika kasih kepadaNya.?
sekarang bagaimana selanjutnya?

SARAN-SARAN UNTUK PERTUMBUHAN ROHANI

T. Tiap-tiap hari hendaknya saudara ke hadirat Tuhan di dalam doa.     ( Yohanes 15:7)

U. Usahakanlah membaca Alkitab setiap hari --Saudara dapat memulai dari Injil Yohanes
    ( Kisah 17:11.)
M. Mintalah kepada Tuhan supaya saudara dapat menaati apa yang saudara baca dari
     Alkitab. (Yohanes 14:21)
B. Biasakan diri untuk bersaksi tentang kristus kepada orang lain.
    ( Matius 4:19; Yohanes 15:8.)
U. Usahakanlah untuk mempercayakan setiap kehidupan saudara kepada Tuhan.
    Dengan demikian, maka saudara dapat mengalami kehidupan yang penuh kelimpahan itu
    hari lepas hari. ( I Petrus 5:7.)
H. Hendaklah saudara membiarkan Roh Kudus menguasai hidup dan kesaksian
    saudara sehari-hari.

Demikian Semoga Renungan ini bermanfaat bagi saudara.


Ut Omnes Unum Sint

Salam Persaudaraan 
PK GMKI FT-UNIMED

GMKI FT-UNIMED-Bidang ORKOM (ARAH, SASARAN DAN POLA IMPLEMENTASI)



ARAH, SASARAN DAN POLA IMPLEMENTASI



  • ARAH
  1. Menata organisasi yang memampukan organisasi untuk menjalankan tugas panggilan dan pelayananyasecara efektif dan konstekstual.
  2. Menjalin komunikasi yang inovatif dan kreatif demi kelancaran tuggs-tugs pelayanan.
  3. Meningkatkan kemampuan dan pemahaman organisasi GMKI.
  4. Pengoptimalan Fasilitas dan sarana penunjang orgaanisasi dalam memperlancar tugas dan pelayananya.
  5. Meningkatkan pemahaman anggota mengenai tugas dan tanggungjawabnya secara konstitusional.
  6. Memanfaatkan perkembangan media sosial sebagai penyampai informasi dan pelayanan GMKI FT-UNIMED terkait isu-isu yang berkembang.

  • SASARAN
  1. Terciptanya tata organisasi yang baik.
  2. Terciptanya media komunikasi yang partisipatif dan komunikatif.
  3. Peningkatan pemahaman organisasi agar dapat menjalankan organisasi dalam keseharianya.
  4. Anggota memahami tugas dan tanggungjawabnya sebagai anggota GMKI.
  5. Adanya informasi yang up to date terkait isu-isu yang berkembang.
  6. Meningkatkan ikatan yang emosional anatara anggota dengan anggota, anggota dengan PK dan PK dengan PK.
  • POLA IMPLEMENTASI
  1. Membuat tata organisasi yang komunikatif dan efektif.
  2. Membuat media komunikasi yang efektif, imperatif dan dan inovatif.
  3. Melakukan diskusi-diskusi tentang norganisasi.
  4. Pendataan anggota yang akurat.
  5. Membuat program berupa shering condition dan refleksi sebagai media untuk mengetahui kondisi anggota dan pengurus komisariat.
  6. Memaksimalkan media sosial GMKIFT-UNIMED sebagaio media interaksi sesama anggota dan sebagai media penyampai informasi kepada seluruh civitas G,KI FT-UNIMED.
  7. Terciptanya hubungan emosional yang baik anatara anggota dengan anggota, anggoata dengan pengurus komisariat dan pengurus komisariat dengan pengurus komisariat.

Tinggi Iman
Tinggi Ilmu
Tinggi Pengabdian




Ut Omnes Unum Sint

Syalom.......

PK GMKI Komisariat FT-UNIMED MB 2014/2015
Bernata Manalu (Wakil Sekrataris Bidang Organisasi dan Komunikasi
)


Salam Persaudaraan.....